Selasa, 06 Agustus 2013

Cerpen Catatan Biru, oleh masrurotul farida.


CATATAN BIRU

Angin dengan riang berhembus melewati celah-celah dedaunan. Pohon-pohon bergoyang menyibakkan daunnya yang kekuningan dibawah matahari yang semakin meninggi. Sehelai dua helai daun kuning jatuh berlalu berlalu bersama air sungai yang jernih. Aku tersenyum simpul seraya menengadahkan wajah melawan angin.
Tempat ini tak berubah, tetap sama seperti lima tahun yang lalu saat aku melewati masa kecilku bersama sahabat kecilku abang Sam, hampir setiap hari kami menghabiskan waktu dipinggir sungai ini. Biasanya sehabis pulang sekolah dasar, aku, bang Sam, dan satu lagi Aini, selalu mampir ketempat ini untuk bermain air atau bahkan mandi. Aini adalah anak paling tua setelah bang Sam. Kami bertiga adalah saudara sepupu tapi kedekatan kami sudah seperti saudara kandung.
Aku masih ingat, saat kami mandi disungai sepulang sekolah, abang Sam mengoleskan tanah liat diwajahku dan Aini, bahkan kadang melemparnya tepat didahi kami berdua. Tak terasa waktu itu cepat berlalu. Setetes air bening mengalir dari kelopak mataku. Rupanya rasa bersalah itu masih mengakar dihatiku. Betapa sulitnya ku hilangkan rasa bersalah yang sudah menggunung itu.
                                                                 #####
Pagi itu masih sangat dingin, halaman rumahku basah. Tadi malam turun hujan.  Hari ini hari libur, biasanya aku berleha-leha diatas kasur empukku tapi tidak kali ini, aku bergegas keluar rumah sambil memasang kerudung abu-abu kesayanganku dan dengan cepat mengayuh sepedaku melewati jalan gang sempit dan rumah-rumah kayu, orang orang didesaku belum bangun karena harui libur jadi tidak banyak yang harus mereka kerjakan.
Tadi malam sehabis pulang mengaji dirumah Bu Salamah, Ibu memberitahuku bahwa abang Sam pulang dari pondok pesantrennya. Aku senang bukan kepalang pasalnya sudah dua tahun tidak bertemu karena bang Sam harus mondok disebuah pesantren dipulau Madura dan disusul Aini setahun kemudian.
Aku heran kenapa bang Sam pulang begitu cepat tapi saat kutanyakan pada Ibuku dia hanya diam tak menggubris pertanyaanku.
Kuparkir sepedaku dibawah pohon mangga di depan rumah bang Sam. Pagi ini pintu rumah itu telah terbuka lebar. Kulihat bi Mus, ibu bang Sam sedang menyapu halaman rumah.
“ Assalamu‘alaikum bi …“
“Wa’alaikummussalam.. eh Holifah ada apa pagi pagi kesini ? “ tanyanya kaget. Aku hanya tersenyum, aku tau bi Mus pasti senang dengan kedatanganku karena selama bang Sam tidak ada dirumah bi Mus sering memintaku untuk menjaga rumahnya. Walaupun dia mempunyai empat anak tapi mereka semua pergi merantau.
“ Bi, katanya bang Sam pulang tadi malam? “
“ Iya Fah… “ jawabnya lemah.
“Kenapa pulang Bi ?” Tanyaku lagi. Bi Mus hanya diam dan mempersilahkan aku masuk. Rumah bang Sam lebih besar dari pada rumahku, kulewati dua pintu kamar menuju kamar bang Sam yang sedikit terbuka. Saat ku buka kulihat bang Sam duduk bersandar diatas ranjang sambil melipat kedua tangannya didada.
Bang Sam sedang sholat Dhuha tapi kok duduk? Ah mungkin sedang sakit” ucapku dalam hati. Sambil menunggu bang Sam selesai Sholat aku memperhatikan sekeliling kamar bang Sam. Tetap tidak berubah, masih sama seperti dulu saat aku dan Aini dikunci di kamar ini lantaran disuruh menginap tapi kami tidak  mau namun tetap saja akhirnya kami harus mengalah, kami selalu kesal kalau bang Sam menjahili kami, itu adalah sifat buruknya yang tidak pernah kami sukai.
“Kenapa baru sekarang Fah, datang kesini?” suara itu membuyarkan lamunanku,
“Ah, salah Abang kenapa pulang tidak memberitahuku,” ucapku manyun. Bang Sam hanya tertawa dan melempar bantal ke arahku. “Fah, tolong ambilkan tongkatku dibelakang pintu,” pintanya sambil menunjuk ke arah belakang pintu kamar. Deg… tongkat? Aku terpaku sejenak.
“ Ini bukan tongkat untuk memukul kucing kan bang ?”
“Tidak itu tongkat untuk memukul kepalamu karena tidak membalas suratku” katanya sambil tersenyum jahil.
Aku masih ingat dulu saat aku duduk di bangku kelas dua MTs bang Sam mengirim surat untukku dan Aini. Saat itu aku sangat kesal karena surat yang kuterima memakai bahasa Inggris sedangkan surat untuk Aini berbahasa Indonesia. Aku pikir dia mengerjaiku lantaran aku tidak bisa berbahasa Inggris. Kecuali study hard karena itu sering diucapkan oleh guru bahasa Inggrisku seusai pelajaran berakhir.
“Hei, kenapa melamun Fah..” suara itu mengagetkanku lagi.
“Ah tidak, kenapa Abang pulang, bukannya sekarang bukan waktu libur ?” tanyaku penasaran. Bang Sam menghela nafas dalam dalam. Dia menyingsing sarung hijau bermotif kotak- kotaknya hingga diatas lutut kirinya. “Aku tidak akan pulang aklau tidak karena ini Fah…“ Bang Sam mengelus benjolan sebesar bola takrau di lutut kirinya. Aku menyumpal mulutku, air hangat mengalir dipipiku. Aku menangis disamping Bang Sam “Sudahlah Fah, nasi sudah menjadi bubur,”
“Kenapa tidak dioperasi saja Bang ?” suaraku parau, aku ingin menangis sejadi jadinya tapi sebisa mungkin kutahan air mataku.
“Kalaupun dioperasi aku harus memotong kakiku. Aku tidak mau mati setengah setengah, aku mau mati secara utuh Fah…” kini giliran Bang Sam yang menangis, tangan kanannya merangkul erat bahuku. Hari ini ku tau Bang Sam mengidap penyakit tumor ganas dilutut kirinya dan itu berarti dia tidak bisa bermain bersamaku dan Aini seperti dulu. Tidak lagi mengejar dan menarik kerudungku. Tidak lagi berenang disungai dan melempariku dengan tanah liat di dahi. Kini dia harus berjalan dengan kedua tongkatnya.
Sebulan sudah sejak kepulangan Bang Sam, tumor dilututnya semakin hari bertambah besar. Bi Mus dan suaminya sudah putus asa karena sudah membawa bang Sam kesemua dokter, dukun, bahkan tukang pijat tapi tidak membuahkan hasil. Menurut dokterhidupnya tak akan lama karena penyakit itu selalu menghisap sum-sum tulang kaki Bang Sam.
Air mataku selalu ingin tumpah jika melihat tubuh bang Sam yang semakin hari semakin kurus saja, tidak ada yang bisa kulakukan, yang bisa kulakukan hanya membutanya tersenyum setiap hari, menahan air mataku agar tidak tumpah begitu saja saat melihatnya menahan rasa sakit sambil menjerit tak karuan.
                                                                 #####
“Fah, dulu aku melempari kamu dan Aini dengan tanah liat ini…… sekarang aku tidak mungkin melakukannya lagi,”  suara itu semakin hari semakin melemah, laki-laki kurus itu duduk di atas rerumputan sambil mengepal-ngepal tanah liat membentuk sebuah bola di tangan kanannya. Bang Sam dan aku merasakan hal yang sama takut dan kesedihan, betapa tidak, waktu tak mungkin lama menemani kebersamaan kami.
Sore itu aku menemani Bang Sam dipinggir sungai tempat kami bermain dulu hingga matahari hampir terbenam, kuperhatikan raut wajah Bang Sam yang semakin hari semakin menampakkan gurat wajah kesedihan, kantong matanya tampak hitam, tulang pipinya pun semakin menonjol.
“Fah, Aini tidak akan sempat melihatku, waktuku hanya tinggal sebentar,” lanjutnya, aku hanya diam membisu, sesekali kulempar ranting ranting kecil ke sungai untuk menahan air mataku yang hampir saja tumpah.
Hari mulai senja, aku memapah Bang Sam kembali ke rumah. “Tidak bermalam disini Fah…?” tanyanya penuh harap, aku hanya menggeleng. Sejak saat itu aku memulai rasa penyesalanku dan sejak itu pula aku jarang bermain kerumah Bang Sam.
Hari-hariku disibukkan dengan belajar sebagai persiapan menghadapi ujian kelulusanku dibangku MTs, hal ini membuat Bang Sam marah padaku, “Kalau mau belajar kenapa tak bersamaku saja? Aku masih ingin belajar Fah.. aku masih ingin memegang bukuku,” katanya saat aku mengatakan bahwa aku tidak bisa menemaninya. Bi Mus meneteskan air mata mendengar hal itu, wanita separuh baya  itu merasa terpukul karena melihat kondisi anaknya yang kini hanya bisa berbaring. Dia tahu anak bungsunya tidak akan punya banyak waktu lagi.
Setelah ujian akhir kelulusanku selesai, aku mendapat kabar bahwa Bang Sam sekarat, benjolan dilututnya pecah mengeluarkan nanah bercampur darah. Hari itu hari minggu, aku sendirian menjaga rumah, kedua orang tuaku pergi menjenguk Bang Sam. Aku tidak kuat jika harus melihat Bang Sam yang terbaring diatas kasur sambil mengeluh kesakitan, membayangkannya saja aku tidak tega, maka dari itu aku lebih memilih untuk menjaga rumah walaupun sebenarnya hatiku mengatakan aku harus pergi. Aku tidak berani.
Kurebahkan tubuhku diatas kasur, walaupun mataku tidak bisa terpejam barang sejenak, kulirik jam yang menempel diatas dinding kamarku sudah pukul 20.00, dari dalam kamar kudengar suara pintu kamarku dibuka, kuperhatikan mata Ibuku yang sembab. Sepertinya habis menangis. Ibu duduk disampingku diatas kasur, wajahnya mengisyaratkan kehilangan, Aku heran tak mengerti. Ibu terus diam membisu disampingku.
“Fah, sabar ya nak.. Samsul abangmu sudah tiada…” suara ibu terdengar bergetar. Butiran bening itu kembali membasahi pipiku, membentuk sungai kecil diwajahku, aku terdiam untuk waktu yang lama, waktu seakan berhenti. Aku tak bisa mendengar suara apapun, Ibu meninggalkanku sendirian di kamar yang entah semenjak kapan ruangan ini terasa begitu sempit bagiku. Kucoba merebahkan kepala yang terasa amat berat.
Mulai malam ini, tak kan  ada lagi Bang Sam yang mengejekku. Malam ini  aku telah kehilangan Abang  juga saudaraku. Perlahan mataku mulai terpejam, percaya atau tidak aku melihat Bang Sam mengenakan baju ihram berjalan menghampiriku dan membelai rambutku seraya tersenyum tulus penuh kemenangan.
                                                                 #####
Keesokan paginya, keranda jenazah lewat didepanku. Aku tak ikut mengantar Bang Sam ke peristirahatan terakhirnya, kakiku kaku membatu tak kuat berjalan meski hanya selangkah. Kerudung hitam yang menutupi kepalaku sudah basah karena air mata yang tak henti- hentinya mengalir dari kelopak mataku. Tak terasa mataku sudak membengkak. Bi Mus memelukku erat, tangan hangatnya mengelus-elus bahuku, kulihat matanya juga membengkak. “Sudahlah Fah… ini sudah kehendak-Nya” suaranya terdengar berat. “Maafkan Ifah bi tidak bisa menemani hari-hari terakhir Bang Sam. Ifah menyesal…”
“Tidak Fah. Semuanya sudah terjadi. Fah mungkin buku ini untukmu. Bibi menemukannya di bawah bantal,” Bi Mus menyodorkan sebuah buku yang kutahu selalu dipegang Bang Sam.
Di dalam kamar, aku mulai membaca kata perkata buku biru tua di tanganku. Hingga sampai pada halaman terakhir, kalimat kalimat itu yang membuatku selalu ingin membacanya…
Untuk adik dan teman kecilku…
Dik…
Waktu bukan halangan bagiku untuk kembali kehadapan-Nya…
Sungguh sakit rasanya saat rohku  dan jasadku tak menyatu lagi, bagai daging diiris-iris kemudian disiram dengan cuka dicampur garam, sungguh sakit rasanya…
Dik…
Aku tak sempat merasakan surga dunia bersama seorang pendamping hidup, bukan waktu yang tak wajar tapi tubuhku yang kurang sempurna tak mengizinkanku. Aku telah memilih kehidupan abadi bersama-Nya.
Ah… betapa aku merindukan kelasku, belajarku, aku masih ingin belajar dik…
Berjanjilah padaku satu hal, jangan katakan apapun pada Aini sampai dia kembali…dia akan lebih sedih karena tidak sempat melihatku,
Berjanjilah dik…
Samsul,
Sungai ini begitu tenang. Kubuka kembali buku biru ditanganku. Kubaca lagi dan lagi kalimat didalamnya, entah sudah berapa kali aku membacanya, mungkin sudah tak terhitung dengan jari. Hingga warna sudut-sudutnya sudah memudar, namun kuharap ini dapat menebus rasa bersalahku.

                                                     ---THE END---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar