CATATAN
BIRU
Angin
dengan riang berhembus melewati celah-celah dedaunan. Pohon-pohon bergoyang
menyibakkan daunnya yang kekuningan dibawah matahari yang semakin meninggi.
Sehelai dua helai daun kuning jatuh berlalu berlalu bersama air sungai yang
jernih. Aku tersenyum simpul seraya menengadahkan wajah melawan angin.
Tempat
ini tak berubah, tetap sama seperti lima tahun yang lalu saat aku melewati masa
kecilku bersama sahabat kecilku abang Sam, hampir setiap hari kami menghabiskan
waktu dipinggir sungai ini. Biasanya sehabis pulang sekolah dasar, aku, bang
Sam, dan satu lagi Aini, selalu mampir ketempat ini untuk bermain air atau
bahkan mandi. Aini adalah anak paling tua setelah bang Sam. Kami bertiga adalah
saudara sepupu tapi kedekatan kami sudah seperti saudara kandung.
Aku
masih ingat, saat kami mandi disungai sepulang sekolah, abang Sam mengoleskan tanah
liat diwajahku dan Aini, bahkan kadang melemparnya tepat didahi kami berdua.
Tak terasa waktu itu cepat berlalu. Setetes air bening mengalir dari kelopak
mataku. Rupanya rasa bersalah itu masih mengakar dihatiku. Betapa sulitnya ku
hilangkan rasa bersalah yang sudah menggunung itu.
#####
Pagi
itu masih sangat dingin, halaman rumahku basah. Tadi malam turun hujan. Hari ini hari libur, biasanya aku berleha-leha
diatas kasur empukku tapi tidak kali ini, aku bergegas keluar rumah sambil
memasang kerudung abu-abu kesayanganku dan dengan cepat mengayuh sepedaku
melewati jalan gang sempit dan rumah-rumah kayu, orang orang didesaku belum
bangun karena harui libur jadi tidak banyak yang harus mereka kerjakan.
Tadi
malam sehabis pulang mengaji dirumah Bu Salamah, Ibu memberitahuku bahwa abang
Sam pulang dari pondok pesantrennya. Aku senang bukan kepalang pasalnya sudah
dua tahun tidak bertemu karena bang Sam harus mondok disebuah pesantren dipulau
Madura dan disusul Aini setahun kemudian.
Aku
heran kenapa bang Sam pulang begitu cepat tapi saat kutanyakan pada Ibuku dia
hanya diam tak menggubris pertanyaanku.
Kuparkir
sepedaku dibawah pohon mangga di depan rumah bang Sam. Pagi ini pintu rumah itu
telah terbuka lebar. Kulihat bi Mus, ibu bang Sam sedang menyapu halaman rumah.
“
Assalamu‘alaikum bi …“
“Wa’alaikummussalam..
eh Holifah ada apa pagi pagi kesini ? “ tanyanya kaget. Aku hanya tersenyum,
aku tau bi Mus pasti senang dengan kedatanganku karena selama bang Sam tidak
ada dirumah bi Mus sering memintaku untuk menjaga rumahnya. Walaupun dia
mempunyai empat anak tapi mereka semua pergi merantau.
“
Bi, katanya bang Sam pulang tadi malam? “
“ Iya
Fah… “ jawabnya lemah.
“Kenapa
pulang Bi ?” Tanyaku lagi. Bi Mus hanya diam dan mempersilahkan aku masuk.
Rumah bang Sam lebih besar dari pada rumahku, kulewati dua pintu kamar menuju
kamar bang Sam yang sedikit terbuka. Saat ku buka kulihat bang Sam duduk
bersandar diatas ranjang sambil melipat kedua tangannya didada.
“Bang Sam sedang sholat Dhuha tapi kok duduk?
Ah mungkin sedang sakit” ucapku dalam hati. Sambil menunggu bang Sam
selesai Sholat aku memperhatikan sekeliling kamar bang Sam. Tetap tidak
berubah, masih sama seperti dulu saat aku dan Aini dikunci di kamar ini
lantaran disuruh menginap tapi kami tidak
mau namun tetap saja akhirnya kami harus mengalah, kami selalu kesal
kalau bang Sam menjahili kami, itu adalah sifat buruknya yang tidak pernah kami
sukai.
“Kenapa
baru sekarang Fah, datang kesini?” suara itu membuyarkan lamunanku,
“Ah,
salah Abang kenapa pulang tidak memberitahuku,” ucapku manyun. Bang Sam hanya
tertawa dan melempar bantal ke arahku. “Fah, tolong ambilkan tongkatku
dibelakang pintu,” pintanya sambil menunjuk ke arah belakang pintu kamar. Deg… tongkat? Aku terpaku sejenak.
“
Ini bukan tongkat untuk memukul kucing kan bang ?”
“Tidak
itu tongkat untuk memukul kepalamu karena tidak membalas suratku” katanya
sambil tersenyum jahil.
Aku
masih ingat dulu saat aku duduk di bangku kelas dua MTs bang Sam mengirim surat
untukku dan Aini. Saat itu aku sangat kesal karena surat yang kuterima memakai
bahasa Inggris sedangkan surat untuk Aini berbahasa Indonesia. Aku pikir dia mengerjaiku
lantaran aku tidak bisa berbahasa Inggris. Kecuali study hard karena
itu sering diucapkan oleh guru bahasa Inggrisku seusai pelajaran berakhir.
“Hei,
kenapa melamun Fah..” suara itu mengagetkanku lagi.
“Ah
tidak, kenapa Abang pulang, bukannya sekarang bukan waktu libur ?” tanyaku
penasaran. Bang Sam menghela nafas dalam dalam. Dia menyingsing sarung hijau
bermotif kotak- kotaknya hingga diatas lutut kirinya. “Aku tidak akan pulang
aklau tidak karena ini Fah…“ Bang Sam mengelus benjolan sebesar bola takrau di
lutut kirinya. Aku menyumpal mulutku, air hangat mengalir dipipiku. Aku
menangis disamping Bang Sam “Sudahlah Fah, nasi sudah menjadi bubur,”
“Kenapa
tidak dioperasi saja Bang ?” suaraku parau, aku ingin menangis sejadi jadinya
tapi sebisa mungkin kutahan air mataku.
“Kalaupun
dioperasi aku harus memotong kakiku. Aku tidak mau mati setengah setengah, aku
mau mati secara utuh Fah…” kini giliran Bang Sam yang menangis, tangan kanannya
merangkul erat bahuku. Hari ini ku tau Bang Sam mengidap penyakit tumor ganas
dilutut kirinya dan itu berarti dia tidak bisa bermain bersamaku dan Aini
seperti dulu. Tidak lagi mengejar dan menarik kerudungku. Tidak lagi berenang
disungai dan melempariku dengan tanah liat di dahi. Kini dia harus berjalan
dengan kedua tongkatnya.
Sebulan
sudah sejak kepulangan Bang Sam, tumor dilututnya semakin hari bertambah besar.
Bi Mus dan suaminya sudah putus asa karena sudah membawa bang Sam kesemua
dokter, dukun, bahkan tukang pijat tapi tidak membuahkan hasil. Menurut dokterhidupnya
tak akan lama karena penyakit itu selalu menghisap sum-sum tulang kaki Bang
Sam.
Air
mataku selalu ingin tumpah jika melihat tubuh bang Sam yang semakin hari
semakin kurus saja, tidak ada yang bisa kulakukan, yang bisa kulakukan hanya
membutanya tersenyum setiap hari, menahan air mataku agar tidak tumpah begitu
saja saat melihatnya menahan rasa sakit sambil menjerit tak karuan.
#####
“Fah,
dulu aku melempari kamu dan Aini dengan tanah liat ini…… sekarang aku tidak
mungkin melakukannya lagi,” suara itu
semakin hari semakin melemah, laki-laki kurus itu duduk di atas rerumputan sambil
mengepal-ngepal tanah liat membentuk sebuah bola di tangan kanannya. Bang Sam
dan aku merasakan hal yang sama takut dan kesedihan, betapa tidak, waktu tak
mungkin lama menemani kebersamaan kami.
Sore
itu aku menemani Bang Sam dipinggir sungai tempat kami bermain dulu hingga
matahari hampir terbenam, kuperhatikan raut wajah Bang Sam yang semakin hari
semakin menampakkan gurat wajah kesedihan, kantong matanya tampak hitam, tulang
pipinya pun semakin menonjol.
“Fah,
Aini tidak akan sempat melihatku, waktuku hanya tinggal sebentar,” lanjutnya,
aku hanya diam membisu, sesekali kulempar ranting ranting kecil ke sungai untuk
menahan air mataku yang hampir saja tumpah.
Hari
mulai senja, aku memapah Bang Sam kembali ke rumah. “Tidak bermalam disini Fah…?”
tanyanya penuh harap, aku hanya menggeleng. Sejak saat itu aku memulai rasa
penyesalanku dan sejak itu pula aku jarang bermain kerumah Bang Sam.
Hari-hariku
disibukkan dengan belajar sebagai persiapan menghadapi ujian kelulusanku
dibangku MTs, hal ini membuat Bang Sam marah padaku, “Kalau mau belajar kenapa
tak bersamaku saja? Aku masih ingin belajar Fah.. aku masih ingin memegang
bukuku,” katanya saat aku mengatakan bahwa aku tidak bisa menemaninya. Bi Mus
meneteskan air mata mendengar hal itu, wanita separuh baya itu merasa terpukul karena melihat kondisi
anaknya yang kini hanya bisa berbaring. Dia tahu anak bungsunya tidak akan
punya banyak waktu lagi.
Setelah
ujian akhir kelulusanku selesai, aku mendapat kabar bahwa Bang Sam sekarat,
benjolan dilututnya pecah mengeluarkan nanah bercampur darah. Hari itu hari
minggu, aku sendirian menjaga rumah, kedua orang tuaku pergi menjenguk Bang
Sam. Aku tidak kuat jika harus melihat Bang Sam yang terbaring diatas kasur
sambil mengeluh kesakitan, membayangkannya saja aku tidak tega, maka dari itu
aku lebih memilih untuk menjaga rumah walaupun sebenarnya hatiku mengatakan aku
harus pergi. Aku tidak berani.
Kurebahkan
tubuhku diatas kasur, walaupun mataku tidak bisa terpejam barang sejenak,
kulirik jam yang menempel diatas dinding kamarku sudah pukul 20.00, dari dalam
kamar kudengar suara pintu kamarku dibuka, kuperhatikan mata Ibuku yang sembab.
Sepertinya habis menangis. Ibu duduk disampingku diatas kasur, wajahnya
mengisyaratkan kehilangan, Aku heran tak mengerti. Ibu terus diam membisu
disampingku.
“Fah,
sabar ya nak.. Samsul abangmu sudah tiada…” suara ibu terdengar bergetar.
Butiran bening itu kembali membasahi pipiku, membentuk sungai kecil diwajahku,
aku terdiam untuk waktu yang lama, waktu seakan berhenti. Aku tak bisa
mendengar suara apapun, Ibu meninggalkanku sendirian di kamar yang entah
semenjak kapan ruangan ini terasa begitu sempit bagiku. Kucoba merebahkan
kepala yang terasa amat berat.
Mulai
malam ini, tak kan ada lagi Bang Sam
yang mengejekku. Malam ini aku telah kehilangan
Abang juga saudaraku. Perlahan mataku
mulai terpejam, percaya atau tidak aku melihat Bang Sam mengenakan baju ihram
berjalan menghampiriku dan membelai rambutku seraya tersenyum tulus penuh
kemenangan.
#####
Keesokan
paginya, keranda jenazah lewat didepanku. Aku tak ikut mengantar Bang Sam ke
peristirahatan terakhirnya, kakiku kaku membatu tak kuat berjalan meski hanya
selangkah. Kerudung hitam yang menutupi kepalaku sudah basah karena air mata
yang tak henti- hentinya mengalir dari kelopak mataku. Tak terasa mataku sudak
membengkak. Bi Mus memelukku erat, tangan hangatnya mengelus-elus bahuku,
kulihat matanya juga membengkak. “Sudahlah Fah… ini sudah kehendak-Nya”
suaranya terdengar berat. “Maafkan Ifah bi tidak bisa menemani hari-hari
terakhir Bang Sam. Ifah menyesal…”
“Tidak
Fah. Semuanya sudah terjadi. Fah mungkin buku ini untukmu. Bibi menemukannya di
bawah bantal,” Bi Mus menyodorkan sebuah buku yang kutahu selalu dipegang Bang
Sam.
Di
dalam kamar, aku mulai membaca kata perkata buku biru tua di tanganku. Hingga
sampai pada halaman terakhir, kalimat kalimat itu yang membuatku selalu ingin
membacanya…
Untuk adik dan teman kecilku…
Dik…
Waktu bukan halangan bagiku untuk kembali kehadapan-Nya…
Sungguh sakit rasanya saat rohku dan jasadku tak menyatu lagi, bagai daging
diiris-iris kemudian disiram dengan cuka dicampur garam, sungguh sakit rasanya…
Dik…
Aku tak sempat merasakan surga dunia bersama seorang pendamping
hidup, bukan waktu yang tak wajar tapi tubuhku yang kurang sempurna tak
mengizinkanku. Aku telah memilih kehidupan abadi bersama-Nya.
Ah… betapa aku merindukan kelasku, belajarku, aku masih ingin belajar
dik…
Berjanjilah padaku satu hal, jangan katakan apapun pada Aini sampai
dia kembali…dia akan lebih sedih karena tidak sempat melihatku,
Berjanjilah dik…
Samsul,
Sungai
ini begitu tenang. Kubuka kembali buku biru ditanganku. Kubaca lagi dan lagi
kalimat didalamnya, entah sudah berapa kali aku membacanya, mungkin sudah tak
terhitung dengan jari. Hingga warna sudut-sudutnya sudah memudar, namun kuharap
ini dapat menebus rasa bersalahku.
---THE
END---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar